Manajemen Polusi Jalanan

Salah satu efek dari kemajuan zaman adalah meningkatnya mobilitas penduduk masyarakat. Mobilitas penduduk ini erat kaitannya dengan globalisasi dan semakin majunya teknologi alat transportasi. Dengan meningkatnya mobilitas penduduk maka meningkat pula penggunaan alat transportasi, sayangnya alat transportasi yang ada sekarang ini sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utama sehingga secara tidak langsung meningkatkan jumlah dari polusi jalanan.

Polusi jalanan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga sesuai dengan jenis transportasi yang ada sekarang ini, yaitu polusi transportasi udara, polusi transportasi air, serta polusi transportasi darat.

Polusi Transportasi Udara

Walaupun jumlah alat transportasi udara tidak sebanyak alat transportasi yang lain tapi jumlah polusinya harus tetap diperhatikan. Pada tahun 1980-1990 ada penelitian yang menyatakan bahwa oksida nitrogen atau NOx yang dihasilkan dari hasil pembuangan mesin jet dapat merusak lapisan ozon lebih parah dari pada CFC (Cloro-Fluoro-Carbon), bahkan WWF pada tahun 1991 berani menyatakan bahwa yang patut dijadikan tersangka utama melebarnya lubang ozon adalah polusi NOx dari sistem transportasi udara, hal ini karena NOx secara kimiawi dapat menguraikan ozon (O3) dengan bantuan sinar ultraviolet matahari dan emisi gas buangan pesawat ini banyak terdapat di ketinggian jelajah pesawat (10-12 km) sehingga makin mudah saja mengurai ozon (O3) menjadi oksigen (O2). Emisi NOX memberikan kontribusi dalam pemanasan global sebesar 5-40 % yang jelas-jelas sangat mengejutkan karena sama sekali tak diperhitungkan dalam daftar penyebab efek rumah kaca (pemanasan global) yang telah dikenal luas seperti CFC, CO2, dan SO2.

Untuk menangani permasalahan polusi akibat sistem transportasi udara ini maka banyak yang mencoba untuk mencari solusi, salah satunya adalah dengan mengembangkan teknologi masin pembakaran pesawat agar pembakaran pesawat menjadi lebih sempurna dan emisi yang dihasilkan pun semakin sedikit misalnya teknologi mesin baru Double Annular Combustors pada mesin turbofan dapat mengurangi emisi khususnya NOx, dalam pengembangannya dibuat pre-mix combustor concept sebagai Twin Annular Pre-Swirl (TAPS) dapat mengurangi NOx, CO2, dan hidrokarbon. Selain itu bisa juga dilakukan dengan mengganti bahan bakar dari pesawat yang ada sekarang ini dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Misalnya prototipe yang dibuat oleh Bertrand Piccard yang sempat dipamerkan di Duebendorf, Swiss. Prototipe tersebut berupa pesawat sebesar jumbo jet yang menggunakan energi surya sebagai sumber energi utama.

Selain itu upaya pengurangan emisi transportasi udara bisa dilakukan dengan upaya advokasi misalnya komitmen dari uni eropa untuk mengurangi emisi dari penggunaan alat transportasi udara sejak tahun 2008 sebagai implementasi terhadap Protokol Kyoto, selain itu dibuat pula peraturan yang mengatur emisi yang dihasilkan pesawat udara diantaranya membatasi hasil pembakaran mesin jet saat take off dan saat landing serta mengurangi 20% emisi gas buang NOx yang keluar dari exhaust, minimal 16% yang harus dipenuhi tahun 2007, meremajakan armada-armada yang dimiliki oleh berbagai maskapai penerbangan di Indonesia, edukasi dan menggerakkan masyarakat untuk menanam pohon yang dapat menyerap karbon dioksida.

Polusi Transportasi Laut

Transportasi laut merupakan alat transportasi utama yang dipergunakan dalam perdagangan mancanegara. Transportasi dipergunakan secra luas karena transportasi ini memiliki kelebihan yaitu memiliki kapasitas angkut yang banyak. Selain sebagai alat angkut komoditi perdagangan, transportasi laut juga sering dipergunakan menjadi pangkalan militer di berbagai militer. Di Indonesia sendiri keberadaan alat transportasi laut sengat penting mengingat keadaan geografis Indonesia yang berupa negara kepulauan yang dipisahkan oleh lautan yang sangat luas.

Seperti halnya pada transportasi udara, transportasi laut juga merupakan sumber dari polusi terutama pencemaran laut. Faktor utama yang menyebabkan pencemaran laut adalah buangan kapal, lalu lintas kapal, dan kecelakaan kapal. Kapal dapat mencemari sungai dan samudera dalam banyak cara antara lain melalui tumpahan minyak, air penyaring dan residu bahan bakar. Yang paling berbahaya tentunya adalah tumpahan minyak karena tumpahan minyak yang telah mencemari laut sangat sulit untuk dihilangkan bahkan dapat bertahan selama bertahun-tahun, racun masuk ke dalam rantai makanan karena diserap oleh plankton. Terdapat pula sampah dapur yang langsung dibuang ke laut.

Selain pencemaran melalui bahan buangan, kapal laut serta kapal selam juga dapat menghasilkan polusi suara yang dapat mengganggu habitat dari satwa yang ada di sekitar perairan terutama satwa mamalia. Banyak dari kapal-kapal yang beroperasi di laut menimbulkan kebisingan yang berpengaruh pada ekosistem laut dan umumnya berada pada batasan suara 1000 Hz. Kapal-kapal tanker besar yang beroperasi mengangkut minyak biasanya mengeluarkan suara dengan level 190 desibel atau sekitar 500 Hz. Sedangkan untuk ukuran kapal yang lebih kecil biasanya hanya menimbulkan gelombang suara sekitar 160-170 desibel. Kapal-kapal ini menimbulkan sejenis tembok virtual yang disebut “white noise” yang dapat menghalangi komunikasi antara mamalia di laut sampai batas untuk area yang lebih kecil, menyebabkan gangguan pendengaran permanen atau sementara, perubahan perilaku, stress, mudah terserang penyakit.

Alat transportasi laut juga sering mengalami kecelakaan. Hal ini disebabkan karena regulasi yang tidak jalan, pihak pelabuhan yang tidak mengawasi bawaan penumpang, dan pemilik kapal yang tidak mematuhi aturan. Kecelakaan yang terjadi di laut dan puing-puing yang tertinggal mengakibatkan kerusakan lingkungan. Untuk menanggulangi terjadinya berbagai pencemaran yang ada di laut, berbagai pihak telah melakukan berbagai usaha yaitu membentuk International Maritime Organization oleh PBB yang mengatur keamanan angkutan laut, pencegahan polusi serta persyaratan, pelatihan dan pendidikan awak kapal , memberlakukan sistem ISM Code dengan Designated Person Ashore untuk memberikan standar internasional internasional tentang manajemen dan operasi kapal yang aman dan mencegah terjadinya pencemaran, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan dan seperangkat aturan pengendalian pencemaran dan atau perusakan laut dan meratifikasi beberapa konvensi internasional, memberikan sanksi terhadap pelanggaran regulasi.

Polusi Transportasi Darat

Peningkatan jumlah penduduk dan laju urbanisasi mendorong pertumbuhan kendaraan bermotor yang menjadi sumber polusi. Selain itu polusi udara oleh transportasi darat disebabkan karena penurunan lahan hijau, perubahan gaya hidup yang mendorong peningkatan konsumsi energi, ketergantungan pada minyak bumi sebagai sumber energi. Transportasi darat ini paling banyak digunakan di Indonesia karena kendaraan menghubungkan berbagai wilayah di Indonesia. Adapun beberapa kendaraan yang digunakan yaitu motor, mobil, bus, kereta api. Peningkatan jumlah kendaraan berbanding lurus dengan jumlah polusi yang ditimbulkan. Alasan meningkatnya jumlah kendaraan pribadi yaitu pajak kepemilikan kendaraan pribadi yang rendah, kondisi sosial ekonomi yang meningkat sehingga termotivasi untuk membeli kendaraan, sistem manajemen transportasi massal yang belum memadai. Kepemilikan kendaraan pribadi ini juga meningkatkan status social di masyarakat.

Pencemaran udara berdampak pada kesehatan yaitu menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), mempengaruhi pertumbuhan lambat pada tumbuhan di pinggir jalan, meningkatkan pemanasan global karena zat-zat pencemar seperti CO2, CH4, N2O (oksida nitrat) berkumpul di atmosfer membentuk lapisan tebal yang menjebak panas matahari. Beberapa zat hasil bahan bakar yang berdampak buruk terhadap kesehatan yaitu Sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Hidrokarbon, gas klorin (Cl2), partikel debu, timah hitam. SO2 menyebabkan iritasi sistem pernapasan, CO bersifat racun karena membentuk ikatan dengan hemoglobin, NO2 bersifat racun terhadap paru, plycyclic aromatic hydrocarbon (PAH) yang masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker, gas klorin (Cl2) baunya sangat menyengat dan bila bereaksi dengan ion hidrogen dapat membentuk asam klorida yang menyebabkan iritasi dan peradangan saluran pernapasan, partikel debu dapat menyebabkan ISPA dan iritasi, timah hitam dapat menyebabkan sakit perut, muntah, atau diare, gejala keracunan.

Transportasi darat menyebabkan pencemaran suara dari alat transportasi. Kebisingan yang terus menerus berdampak pada manusia yaitu terjadinya stress, gila, perubahan denyut nadi, tekanan darah berubah, gangguan fungsi jantung, dan kontraksi perut, ketulian secara fisik dan tekanan psikologis, gangguan tidur, hilangnya konsentrasi kerja.

Adapun upaya pengendalian terhadap pencemaran udara yaitu mensosialisasikan penggunaan sepeda untuk melakukan perjalanan jarak dekat, melakukan penghijauan, mensosialisasikan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan (Bahan Bakar Nabati). Kebisingan dapat dicegah dengan mengelompokkan ruangan dengan potensi keramaian agar tidak mengganggu ruangan yang membutuhkan ketenangan, jauhkan ruangan yang membutuhkan ketenangan dari sember kebisingan, gunakan material yang padat, tebal, dan masif untuk menyerap suara, buat ruangan dengan pembatas ganda, kurangi penempatan bukaan pada daerah muka bangunan yang berhadapan dengan jalan yang ramai,buat permukaan yang tidak rata untuk menyebarkan suara, buat pagar atau pembatas jalan yang dapat menyerap atau mencegah kebisingan masuk ke dalam bangunan.

Komentar